Sunday, December 24, 2006

Posting Yang Disensor :p

Akibat dari tulisan saya yang ini terjadi kehebohan di kantor saya. tepatnya di ruangan saya. Posting saya itu ternyata membuat berbagai reaksi dari teman-teman saya dikantor, termasuk rekan2 seruangan yang saja ceritakan di situ.

Ada beberapa comment di postingan itu [for your notification, biasanya postingan saya tidak banyak yg memberikan comment, so yg ini termasuk lain dari biasanya], membela dan memberikan semangat kepada saya untuk melawan dan jangan mau terus diperlakukan seperti itu. Many people concern bout this matter [thanks guys, ternyata orang-orang sudah mulai aware mengenai hal-hal semacam ini].

Bahkan ada satu teman yang dengan sengaja menyinggung hal ini di depan rekan seruangan saya, agar dia tau dan aware. Hal ini membuat sang rekan seruangan ini mengajak saya “bicara serius” mengenai hal ini. Yah, trying to clear things up lah..

He apologize dan bilang kalau itu sebenarnya hanya dimaksudkan untuk bercada. Saya pun mencoba mengatakan apa yang sebenarnya saya rasakan dan apa sih keberatan saya itu. Saya berharap semua kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, baik pada saya atau rekan perempuan lainnya.

Ada satu hal yang jadi penyesalan sang rekan kerja ini, kenapa hal itu harus di posting di blog yang menjadi konsumsi publik. Sampai banyak sekali orang yang menanyakan tentang hal itu kepada sang rekan kerja ini. Seperti apa sih keadaan dan situasi di ruangan saya ini, sampe-sampe saya merasa “semenderita” itu [ini istilah sang rekan kerja ketika berbicara dengan saya]. Bahkan ada beberapa orang yang terlihat sangat tidak suka dengan kejadian ini dan marah.

Dia juga bilang, kalau tulisan saya ini bikin rame di kantor. Saya sendiri ngga ngeh.. Karena saya tau, sedikit sekali orang yang care enough untuk membaca blog saya itu. Blog saya, bukanlah blog dengan cerita yang luar biasa sehingga banyak orang yang senang membacanya. Blog saya itu hanyalah suatu sarana saya untuk menulis dan mencurahkan sebagian kecil apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan.

Ada seorang teman, yang menyumbang saran, sebaiknya saya tidak menuliskan “diary” di blog, difilter apa yang musti dipublish apa yang sebaiknya disimpan sendiri saja. Atau dibatasi akses ke blog itu. Karena di Indonesia orang-orang belum siap dengan keterbukaan seperti itu.

Saya sedikit tidak setuju mengenai hal ini. Tidak setujunya karena adalah hak pribadi saya untuk menuliskan apa saja yang saya inginkan dengan menggunakan media apa saja, tentang apa saja. Tapi dia ada benarnya juga.. kalau tulisan saya, yang menjadi konsumsi publik itu membuat nama baik atau kredibilitas seseorang menjadi tercemar, tentunya saya tidak bisa sekedar menulis, dengan media apa saja, tentang apa saja hanya mengandalkan atas nama “hak pribadi” saya saja.

Hmm.. bahan pemikiran yang menarik, karena saya tidak berfikiran sampe kesitu. Di postingan saya itu, tidak dicantumkan nama ataupun identitas siapa2 orang yang saya maksud. Satu-satunya nama yang saya tuliskan disitu adalah nama saya sendiri. Tapi tentu saja, orang-orang yang dekat dengan saya dan mengetahui kondisi dan lingkungan sekitar saya aja yang bakalan “ngeh” tentang siapa-siapa yang saya tulis disitu. Sayangnya, yang menjadi friends saya di friendster itu kebanyakan adalah teman-teman sekantor yang pastinya langsung tau siapa tokoh-tokoh yang saya maksudkan disitu.

Di kantor saya ini ada suatu, hmm apa yaa..namanya, kebiasaan mungkin. Kalo satu hal sudah menjadi isu, itu akan terus bertahan di udara sampe beberapa waktu. Dan di sini juga ada kecenderungan ‘takut terhadap pimpinan’. Kalau hal seperti ini sampai di dengan Sekjen, alhasil akan ada suatu ‘kebijakan’ [cuih..] yang akan dikeluarkan Sekjen mengenai hal ini. Apalagi isu harrashment gini, bakalan rame deh. Semua orang, termasuk saya [kecuali orang-orang deket Sekjen] termasuk malas jika harus berurusan dengan beliau ini.. halah cape deh, ga akan ada deh win-win solution. Nope and never..

Rekan saya itu mengemukakan hal ini, “gimana seandainya hal ini sampai diketahui oleh Ketua atau Sekjen?”. Waktu itu saya diam saja, tapi dalam hati berkata, “ya kalau sampai diketahui oleh mereka, cerita aja yang sebenarnya. Buat saya ini bukan masalah kecil, tapi untuk sebagian orang [kebanyakan laki-laki], hal ini termasuk hal cemen. Susah memang mengubah konstruksi sosial dan budaya patriarki.

Mungkin kekhawatiran mengenai hal ini lah yang menbuat rekan saya ini bertanya-tanya dan mencari tau ke teman-teman di kantor siapa saja yang bisa mengakses blog saya itu. Karena kegiatan mencari tau ini lah, membuat orang-orang yang ditanya manjadi penasaran.

“Memangnya Astri nulis apa sih?”

Ngeceklah mereka ke blog saya, dan membacanya. Semakin tersebarlah tulisan saya itu di lingkungan kantor.

Rupanya, sang rekan belum membaca postingan saya itu. Dan setelah membacanya, dia mengirimkan pesan singkat ke hp saya yang berbunyi :

“Aku sudah membaca tulisanmu tadi sore, ternyata sebegitunya kamu membenciku. Dan selama ini kamu merasa muak terhadapku”.

Saya tidak membalas apa-apa ketika membaca sms itu. Saya tidak merasa kalau saya harus menjelaskan. Itu asumsi dia terhadap saya setelah membaca postingan saya itu dan saya tidak merasa berkewajiban menjelaskan apa pun terhadapnya. Tapi saya merasa hal ini harus dibicarakan lagi, diselesaikan tepatnya. Saya sebenarnya sudah menganggap hal ini selesai dengan dia meminta maaf dan menyadari apa sebenarnya yang saya rasa dan tidak akan mengulanginya lagi.

Jadi saya meminta untuk bicara mengenai hal ini [lagi], tapi dia menolak dengan bilang lupakan saja, kita bekerja seperti biasa. Ya sudah, I take it that everything is done. Dan semua tidak perlu dibesar-besarkan lagi. But one thing for sure, jika hal-hal seperti ini muncul lagi, saya tidak akan hanya protes, marah, atau menulis di blog. Saya akan langsung melapor ke pihak yang berwenang sehingga bisa ada tindak lanjut dari semua ini. Entah itu saya di pindah tugas, atau ditambah staff perempuan disini.

Well, seperti teman saya bilang, perjuangan saya tidak akan berhenti sampai disini saja.

O ya.. saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman saya yang menunjukkan kesadaran yang tinggi mengenai masalah ini, terima kasih untuk dukungannya dan bantuannya. Untuk Faiz, Lutfi, Luthfi, Lia, Nur, dan Bishar atas sumbang sarannya dan tukar pikiran di larut malam. Semoga berhasil dengan “pembicaraannya” dengan si bokap ya. Dan Uway, thanks a lot.. without you i’m really nothing..

Eh, kok jadi kaya gw menerima awards or something yaa.. hehehe.. ngga sih, cuma saya senang aja, hal ini yang dulunya dirasakan [saya rasakan tepatnya ;)], hal semacam ini tidak akan ditanggapi, bahkan kalo kita protes malah akan tambah dikerjain, tapi ternyata sekarang ngga..

Untuk Nur, hold on.. give her times…

Ah ya.. untuk Fritz, turut berduka cita ya Fritz.. pasti dia diberikan tempat yang terbaik disana, dan semua ini sudah rencana-Nya. Semua rencana-Nya sudah pasti yang terbaik.. sabar yaa..

Wei.. panjang juga saya nulis yah..hehehe.. yah hanya sekedar ingin menulis saja, dengan media apa saja, dan tentang apa saja..hehehe.. no offense ya..

Salah satu tulisan yang "disensor" ga di publish di blog saya yang lalu. Tapi, sesuai keinginan saya, kalo di blog ini mah suka-suka saya aja deh.. Saya hanya ingin menulis.

Ini saya tulis sekitar akhir November lalu. Sekarang semuanya sudah baik-baik saja, hubungan saya dengan rekan-rekan seruangan sudah baik-baik saja, dan alhamdulillah ga pernah lagi kejadian hal-hal yang tidak saya suka itu. Kapok kali ya..



Thursday, December 21, 2006

Management By Ancaman

Pernah denger ga mengenai management by ancaman? Memanage sebuah kantor dengan ancaman. Katanya nih, kata yang udah kuliah S2 mengenai manajemen perkantoran, sistem management by ancaman itu harus di terapkan ke anak-anak muda, karena tanpa ancaman anak-anak muda [seperti saya =) ] yang bekerja di kantor pemerintahan, tidak akan bisa berjalan tanpa si ancaman ini ikut serta. Yeah.. rite..

Is it piss me off? Bangedh.. [pake 'd' dan 'h', yang nunjukkin derajad ke-banget-an-nya]

Saya heran, ini saya yang ngga ngerti mengenai manajemen di kantor ato Die aje yang aneh. Kalo kata temen-temen saya sih, Die yang aneh. Dan semua merasa ngeri membayangkan Die ketika tidak lagi punya jabatan. Kebayang ngga sih, post power syndrom-nya kaya apa...

Yah selamet yee.. Dengan management by acaman-nya itu. Semoga sukses deh Pak, you will need all the luck in the world...

Nyolot? Iya lah saya sangat nyolot. Karena sekali lagi saya mendapatkan perlakuan yang saya rasa tidak adil. Hmm.. mungkin bukan tidak adil ya, tapi tidak mengenakkan, tidak pantas.

Hmm, sound very judgmental yah.. But I’m afraid it is.. Selama saya bekerja di kantor yang sekarang ini, sudah banyak saya dengar mengenai hal-hal tidak meng-enak-an mengenai sang Sekjen. Cara dia menjalankan roda pemerintahan di kantor ini adalah dengan management by anger. Setelah beliau itu lulus dari S2-nya, berubahlah manajemen di kantor ini dengan management by ancaman. Apakah menjadi lebih baik? Mungkin, menurut sia. Kalo menurut saya? jujur ya.. kalo boleh menilai secara satu pihak saja, sebagai seorang staff rendahan [cuma Golongan II C, bo!] yang nasibnya tergantung pada “Kebijakan Sekjen”, I don’t really give a damn about that “Kebijakan”. I am sick of the things that he said about that damn “Kebijakan”. Dia bilang kalo kebijakan-kebijakan itu adalah bukti kebaikan hati beliau dalam rangka meningkatkan kesejahteraan pegawai.. Halah, basi!!

Awalnya, banyak “gerakan” yang mencoba untuk sekedar bertanya kepada Dia mengenai kebijakan-kebijakan itu. Hanya bertanya dan mencoba untuk lebih mengerti kebaikan dari kebijakan itu. Tapi tak ada satu pun yang memberikan hasil. Bahkan, orang-orang yang ikut dalam “gerakan-gerakan” itu masuk daftar hitam sang Sekjen yang amat sangat berkuasa itu dan pelan-pelan tapi pasti disingkirikan.

Ada suatu.. apa ya.. bukan isu, tapi suatu “aturan” yang tidak tertuliskan, kalau kita harus hati-hati bicara disini, because here, wall have ear, segala macam perkataan dan pembicaraan yang terjadi di kantor akan selalu sampai ke telinga Sekjen. Bahkan untuk hal yang terkecil sekalipun, seperti ada seorang pegawai yang pinjem uang 50 ribu ke temennya, abis itu dibahas pula.. ga guna banget.

Saya agak sedikit tau mengengai gemana cara dia bisa tau mengenai hal-hal remeh itu, bagaimana beliau menempatkan telinga di dinding-dinding kantor itu. Beliau “merekrutnya”. Ya.. dengan mengajak ngobrol “kandidat” yang menurut dia bisa dijadikan kaki tangan, memberi mereka pujian dan bersikap sebagai teman mereka, lalu setelah itu dia akan meminta mereka menceritakan tentang pekerjaannya dan teman-temannya. Makin lama pertanyaan akan semakin mendetail terhadap satu orang, mengorek segala sesuatu tentang orang itu. Terakhir, sebelum menghakhiri pertemuan saat itu, dia akan mengeluarkan kalimat pamungkasnya, “Ada lagi yang bisa kamu ceritakan?”, dan lalu dia memberikan akses 24/7 ke HP-nya. “Kapan aja, dimana aja, telpon saya kalau ada yang hendak dilaporkan dan diceritakan, atau sms saja biar saya yang menelpon kamu nanti”.

Damn…

Dan disini, you have to very be careful with who your friend is. Sekali lagi : BE REALLY CAREFUL. Cause you don’t know who you facing. Apakah benar-benar teman yang bisa kamu percayai atau salah satu dari “agen rahasia” Sekjen. Satu lagi.. berhati-hatilah dengan apa yang kamu katakan..

Berlebihan? Maybe it is.. tapi sekali lagi, ini hanya penilaian sepihak dari saya pribadi, penilaian saya pribadi yang subjektif mengenai orang yang saya sangat tidak suka..

And you know what the ironic from all of this? Kenapa saya masih bisa “selamat” di sini with only minor damage? It’s because I’m his relative..

Ironic? It is. And it makes me look like a hypocrite..

Wednesday, December 20, 2006

Lagiii...

Dengan pertimbangan kemungkinan akan terjadinya kehebohan, huru-hara, dan memancing sensasi kalo nulis di sini mengenai hal-hal yang berhubungan dengan perkantoran [seperti yang sudah terjadi sebelumnya], dan hal-hal yang setengah rebel atau hal-hal yang ingin saya tulis tapi bisa berpotensi jadi suber kericuhan di lingkungan saya hidup sekarang, maka atas saran bapak ini, saya membuat lagi sebuah account blog untuk bisa dengan leluasa mencurahkan segala sesuatu yang ingin saya tulis, soroti, amati, rasakan dan omelkan.

Terus terang, di blog terdahulu saya tidak merasa bebas menulis apa-apa yang saya ingin tulis, karena itu tadi, ada kemungkinan akan menyebabkan sensasi. Dan mungkin juga karena disitu adalah wadah ‘pertemanan’ maya dan saya harus bisa [sedapat mungkin] menjaga diri dan perasaan teman-teman disana dengan tidak menyinggung mereka atas tulisan yang saya buat, membuat saya merasa terbatasi.

Tapi [mudah-mudahan] di tempat baru ini, saya bisa dengan bebas menuliskan apa yang saya mau, mengekspresikan apa yang saya rasa, yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sinis, melankolis, sarkastik, atau bahkan kasar dengan berbagai umpatan dan makian yang tidak biasanya saya lakukan dengan bahasa lisan saya. I do that in writing, though, dengan tujuan hanya untuk menyalurkan emosi saya yang dasarnya memang esmosian, nyolot, dan kepala batu.

Well, blog ini benar-benar saya dedikasikan untuk diri saya sendiri yang memang egosentris dan self-centered, not to mention narsis… hehehe..

Selamat menikmati dunia tanpa saya yang harus tunduk dan patuh pada aturan..

Yay.. such a great opening yah..hihihhi…