Pernah denger ga mengenai management by ancaman? Memanage sebuah kantor dengan ancaman. Katanya nih, kata yang udah kuliah S2 mengenai manajemen perkantoran, sistem management by ancaman itu harus di terapkan ke anak-anak muda, karena tanpa ancaman anak-anak muda [seperti saya =) ] yang bekerja di kantor pemerintahan, tidak akan bisa berjalan tanpa si ancaman ini ikut serta. Yeah.. rite..
Is it piss me off? Bangedh.. [pake 'd' dan 'h', yang nunjukkin derajad ke-banget-an-nya]
Saya heran, ini saya yang ngga ngerti mengenai manajemen di kantor ato Die aje yang aneh. Kalo kata temen-temen saya sih, Die yang aneh. Dan semua merasa ngeri membayangkan Die ketika tidak lagi punya jabatan. Kebayang ngga sih, post power syndrom-nya kaya apa...
Yah selamet yee.. Dengan management by acaman-nya itu. Semoga sukses deh Pak, you will need all the luck in the world...
Nyolot? Iya lah saya sangat nyolot. Karena sekali lagi saya mendapatkan perlakuan yang saya rasa tidak adil. Hmm.. mungkin bukan tidak adil ya, tapi tidak mengenakkan, tidak pantas.
Hmm, sound very judgmental yah.. But I’m afraid it is.. Selama saya bekerja di kantor yang sekarang ini, sudah banyak saya dengar mengenai hal-hal tidak meng-enak-an mengenai sang Sekjen. Cara dia menjalankan roda pemerintahan di kantor ini adalah dengan management by anger. Setelah beliau itu lulus dari S2-nya, berubahlah manajemen di kantor ini dengan management by ancaman. Apakah menjadi lebih baik? Mungkin, menurut sia. Kalo menurut saya? jujur ya.. kalo boleh menilai secara satu pihak saja, sebagai seorang staff rendahan [cuma Golongan II C, bo!] yang nasibnya tergantung pada “Kebijakan Sekjen”, I don’t really give a damn about that “Kebijakan”. I am sick of the things that he said about that damn “Kebijakan”. Dia bilang kalo kebijakan-kebijakan itu adalah bukti kebaikan hati beliau dalam rangka meningkatkan kesejahteraan pegawai.. Halah, basi!!
Awalnya, banyak “gerakan” yang mencoba untuk sekedar bertanya kepada Dia mengenai kebijakan-kebijakan itu. Hanya bertanya dan mencoba untuk lebih mengerti kebaikan dari kebijakan itu. Tapi tak ada satu pun yang memberikan hasil. Bahkan, orang-orang yang ikut dalam “gerakan-gerakan” itu masuk daftar hitam sang Sekjen yang amat sangat berkuasa itu dan pelan-pelan tapi pasti disingkirikan.
Ada suatu.. apa ya.. bukan isu, tapi suatu “aturan” yang tidak tertuliskan, kalau kita harus hati-hati bicara disini, because here, wall have ear, segala macam perkataan dan pembicaraan yang terjadi di kantor akan selalu sampai ke telinga Sekjen. Bahkan untuk hal yang terkecil sekalipun, seperti ada seorang pegawai yang pinjem uang 50 ribu ke temennya, abis itu dibahas pula.. ga guna banget.
Saya agak sedikit tau mengengai gemana cara dia bisa tau mengenai hal-hal remeh itu, bagaimana beliau menempatkan telinga di dinding-dinding kantor itu. Beliau “merekrutnya”. Ya.. dengan mengajak ngobrol “kandidat” yang menurut dia bisa dijadikan kaki tangan, memberi mereka pujian dan bersikap sebagai teman mereka, lalu setelah itu dia akan meminta mereka menceritakan tentang pekerjaannya dan teman-temannya. Makin lama pertanyaan akan semakin mendetail terhadap satu orang, mengorek segala sesuatu tentang orang itu. Terakhir, sebelum menghakhiri pertemuan saat itu, dia akan mengeluarkan kalimat pamungkasnya, “Ada lagi yang bisa kamu ceritakan?”, dan lalu dia memberikan akses 24/7 ke HP-nya. “Kapan aja, dimana aja, telpon saya kalau ada yang hendak dilaporkan dan diceritakan, atau sms saja biar saya yang menelpon kamu nanti”.
Damn…
Dan disini, you have to very be careful with who your friend is. Sekali lagi : BE REALLY CAREFUL. Cause you don’t know who you facing. Apakah benar-benar teman yang bisa kamu percayai atau salah satu dari “agen rahasia” Sekjen. Satu lagi.. berhati-hatilah dengan apa yang kamu katakan..
Berlebihan? Maybe it is.. tapi sekali lagi, ini hanya penilaian sepihak dari saya pribadi, penilaian saya pribadi yang subjektif mengenai orang yang saya sangat tidak suka..
And you know what the ironic from all of this? Kenapa saya masih bisa “selamat” di sini with only minor damage? It’s because I’m his relative..
Ironic? It is. And it makes me look like a hypocrite..
No comments:
Post a Comment